Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kamu sekalian, ahlulbaiyt, dan mensucikan kamu sekalian dengan sesuci-sucinya."
(al-Quran s.al-Ahzab:33)
Nabi s.a.w.bersabda, "Yang terbaik diantara kamu sekalian ialah yang terbaik perlakuaannya terhadap ahlulbaiytku, setelah aku kembali kehazirat Allah." (Hadis Sahih dari Abu Hurairah r.a. diriwayatkan oleh al-Hakim, Abu Ya'la, Abu Nu'aim dan Addailamiy)
Imam Syafi'i r.a. dalam banyak syair beliau telah melahirkan rasa cinta dan kasih sayang beliau kepada Ahlulbaiyt Rasulallah s.a.w.antara syair beliau yang banyak itu, beliau pernah bermadah:
"Wahai Ahlulbait Rasulallah !
Kecintaan kepadamu adalah kewajiban dari Allah, yang turun dalam
al-Quran. Cukuplah bukti betapa tingginya kamu sekalian. Tiada sempurna sholat tanpa shalawat untuk anda sekalian."
HADIS NABIBerkaitan Ahlulbait :
1.Hadis Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w bersabda: Penduduk Yaman datang, mereka lebih lembut hatinya. Iman ada pada orang Yaman. Fekah juga ada pada orang Yaman. Kemudian hikmat juga ada pada orang Yaman
2.Hadis Abi Mas'ud Uqbah bin Amru r.a katanya:
Nabi s.a.w memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, seraya bersabda: Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sana sedangkan kekerasan dan kekasaran hati ada pada orang-orang yang bersuara keras berhampiran pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk syaitan, iaitu pada Bani Rabi'ah dan Bani Mudhar
3. Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesiapa yang dilambatkan oleh amalannya, tidaklah dia dipercepatkan oleh nasab keturunannya.”
4. Dari Abdul Muthalib ibnu Rab’ah ibnul Khariif, katanya Rasulullah SAW telah bersabda : ” Sesungguhnya sedeqah itu berasal dari kotoran harta manusia dan ia tidak dihalalkan bagi Muhammad mahupun bagi keluarga Muhammad .” (HR Muslim)
5. At-Thabarani dan lain-lain mengketengahkan sebuah Hadeeth yang bermaksud; “Belum sempurna keimanan seorang hamba Allah sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada ahli-baitku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri, dan sebelum kecintaannya kepada zatku melebihi kecintaannya kepada zatnya sendiri .”
6. Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tarmizi dari `Ali RA bahawa Rasulullah SAW bersabda :”Barangsiapa mencintai kedua orang ini, yakni Hassan,Hussein dan ayah serta ibunya, maka ia bersama aku dalam darjatku di Hari Kiamat
7. Ibnu `Abbas RA berkata bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Cintailah Allah atas kenikmatan yang diberikanNya kepadamu sekelian dan cintailah aku dengan mencintai Allah dan cintailah ahlul-baitku kerana mencintaiku”
8. Ad- Dailami meriwayatkan sebuah Hadeeth dari `Ali RA yang menyebut sabda Rasulullah SAW: “Di antara kalian yang paling mantap berjalan di atas sirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlul-baitku dan para sahabatku.”
9. Diriwayatkan oleh At-Thabarani, bahawa Jabir RA mendengar `Umar ibnu Khattab RA berkata kepada orang ramai ketika mengahwini Ummu Kalthum binti `Ali bin Abu Thalib : “Tidakkah kalian mengucapkan selamat untukku? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ` Semua sabab (kerabat) dan nasab (salasilah keturunan) akan terputus pada hari kiamat kelak kecuali kerabat dan nasabku’.
10. Hadeeth Thaqalain riwayat Zaid bin Al-Arqam RA menyebut : “Kutinggalkan di tengah kalian dua bekal. (Yang pertama): Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang. Hendaklah kalian ambil dan berpegang teguh padanya.dan (kedua) :Ahli Baitku. Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku! Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai Ahli-Baitku!”
11.Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dalam Hadeeth lain: “Apabila bintang-bintang lenyap, lenyaplah penghuni langit; dan apabila ahli-baitku lenyap, lenyap pula penghuni bumi.”
12.Sebuah Hadeeth riwayat Al Hakim dan disahihkan oleh Bukhari & Muslim menyebut : “Bintang-bintang merupakan (sarana) keselamatan bagi penghuni bumi (yang sedang belayar) dari bahaya tenggelam/karam sedangkaan ahlul-baitku sarana keselamatan bagi umatku dari perselisihan (dalam agama). Bila ada satu kabilah Arab yang membelakangi ahlul-baitku, mereka akan berselisih kemudian menjadi kelompok Iblis.”
13. Hadeeth Rasulullah SAW dari Abu Dzar menyatakan :” Ahlul- baitku di tengah kalian ibarat bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang ketinggalan ia binasa.”
14. Abu Dzar Al- Ghiffari RA menuturkan bahawa ia mendengar sabdaan Rasulullah SAW :”"Jadikanlah ahlul-baitku bagi kalian sebagai kepala bagi jasad dan sebagai dua belah mata bagi kepala.”
15. Hadeeth riwayat Imam At-Tarmidzi, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : “Dunia tidak akan berakhir sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang lelaki dari keluargaku yang namanya menyerupai namaku.
SUMBANGAN DERMA UNTUK ANAK YATIM
Bagi yang ingin menderma dan memberi sumbangan kepada Rumah Kebajikan bagi anak yatim, bantuan pendidikan, bantuan fakir miskin, bantuan saudara baru, kaunseling, motivasi dan kem bina insan yang diuruskan oleh Pengurusan Dar Ar Rahman boleh membuat bayaran ke Maybank Akaun : 56-454-8121-325. Untuk keterangan lanjut hubungi saudara Nur Muhammad : HP: 017-2602690. Semoga sumbangan anda diberkati oleh Allah S.W.T.
web analysis Maybank Akaun : 56-454-8121-325 . Untuk keterangan lanjut hubungi saudara Nur Muhammad : HP: 017-2602690. Semoga sumbangan anda diberkati oleh Allah S.W.T.
Praktik Bid'ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat
Praktik Bid'ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat 24/06/2008
Para sahabat sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid'ah hasanah atau perbuatan baru yang terpuji yang sesuai dengan cakupan sabda Rasulullah SAW:
Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)
Karena itu, apa yang dilakukan para sahabat memiliki landasan hukum dalam syariat. Di antara bid'ah terpuji itu adalah:
a. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini".
Ibn Rajar al- Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan pernyataan Sayyidina Umar ibn Khattab "Sebaik-baik bid'ah adalah ini" mengatakan:
"Pada mulanya, bid'ah dipahami sebagai perbuatan yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Dalam pengertian syar'i, bid'ah adalah lawan kata dari sunnah. Oleh karena itu, bid'ah itu tercela. Padahal sebenarnya, jika bid'ah itu sesuai dengan syariat maka ia menjadi bid'ah yang terpuji. Sebaliknya, jika bidØah itu bertentangan dengan syariat, maka ia tercela. Sedangkan jika tidak termasuk ke dalam itu semua, maka hukumnya adalah mubah: boleh-boleh saja dikerjakan. Singkat kata, hukum bid'ah terbagi sesuai dengan lima hukum yang terdapat dalam Islam".
b. Pembukuan Al-Qur'an pada masa Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq atas usul Sayyidina Umar ibn Khattab yang kisahnya sangat terkenal.
Dengan demikian, pendapat orang yang mengatakan bahwa segala perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah haram merupakan pendapat yang keliru. Karena di antara perbuatan-perbuatan tersebut ada yang jelek secara syariat dan dihukumi sebagai perbuatan yang diharamkan atau dibenci (makruh).
Ada juga yang baik menurut agama dan hukumnya menjadi wajib atau sunat. Jika bukan demikian, niscaya apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang telah dituliskan di atas merupakan perbuatan haram. Dengan demikian, kita bisa mengetahui letak kesalahan pendapat tersebut.
c. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra', yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.
Jika demikian, apakah bisa dibenarkan kita mengatakan bahwa Sayyidina Utsman ibn Affan yang melakukan hal tersebut atas persetujuan seluruh sahabat sebagai orang yang berbuat bid'ah dan sesat? Apakah para sahabat yang menyetujuinya juga dianggap pelaku bid'ah dan sesat?
Di antara contoh bid'ah terpuji adalah mendirikan shalat tahajud berjamaah pada setiap malam selama bulan Ramadhan di Mekkah dan Madinah, mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalat tarawih dan lain-lain. Semua perbuatan itu bisa dianalogikan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dengan syarat semua perbuatan itu tidak diboncengi perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau pun dilarang oleh agama. Sebaliknya, perbuatan itu harus mengandung perkara-perkara baik seperti mengingat Allah dan hal-hal mubah.
Jika kita menerima pendapat orang-orang yang menganggap semua bid'ah adalah sesat, seharusnya kita juga konsekuen dengan tidak menerima pembukuan Al-Qur'an dalam satu mushaf, tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah dan mengharamkan adzan dua kali pada hari Jumat serta menganggap semua sahabat tersebut sebagai orang-orang yang berbuat bid'ah dan sesat.
Dr. Oemar Abdallah Kemel Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah Dari karyanya "Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah"yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan "Kenapa Takut Bid’ah
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24:
Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.
Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”
Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.
Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.
Demikianlah. Dalam muktamar kedua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah atau jam’iyyah tarekat-tarekat di lingkungan NU di Pekalongan Jawa Tengah pada 8 Jumadil Ula 1379 H bertepatan dengan 9 November 1959 M para kiai menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada arara peringatan haul:
1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil 2. Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum. 3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.
KH Aziz Mashuri Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, mantan Ketua Umum Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) (Disarikan dari buku kumpulan hasil kesepakatan muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama 1957-
Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:
“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).
Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:
Úä ÃÈí åÑíÑÉÞÇ á , ÞÇ á Ñ Óæ á Çááå Õáí Çááå Úáíå æÓáã ÃäóÇ ÓóíøöÏõ æóáóÏö ÂÏóãó íóæúãó ÇáÞöíóÇãóÉö æóÃæøóáõ ãóäú íõäúÓóÞøõ Úóäúåõ ÇáúÞóÈúÑõ æóÃæøóáõ ÔóÇÝÚò æÃæá ãõÔóÇÝöÚò
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).
Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:
“Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)
Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.
Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?
áóÇ ÊõÓóíøöÏõæäöí Ýöí ÇáÕøóáóÇÉö
“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”
Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.
Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan ÓóÇÏó- íóÓöíúÏõ , akan tetapi ÓóÇÏó -íóÓõæúÏõ , Sehingga tidak bisa dikatakan áóÇÊõÓóíøöÏõæúäöí
Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.
KH Muhyiddin Abdusshomad Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Ketua PCNU Jember
MAJLIS PENGAJIAN KITAB SAFINAH AL-NAJAH AKAN BERSAMBUNG KEMBALI BERMULA HARI INI ( ISNIN - 11 RAJAB 1429 / 14 JULAI 2008)BERMULA JAM 9.30 MALAM.
SEMUA DIJEMPUT HADIR
___________________________
Majlis pengajian kitab Safinah an-Najah
Pengajar: Habib Abdullah bin Hussin al-Masyhor pendakwah dari Madinah. Beliau merupakan pengajar di Ribat al-Jufri di kota Madinah, yang mana ribat tersebut diketuai oleh Habib Zin bin Ibrahim bin Sumaith. [InsyaAllah ada penterjemah]
Tempat: Madras Nur, 36, Jalan Pantai Murni 3, Pantai Dalam, Kuala Lumpur. Peta untuk ketempat pengajian boleh di dapati disini.
Tarikh Pengajian: Bermula pada hari ini, Itsnin - 16 Jun 2008 sehingga hari Khamis, 19 Jun 2008. InsyaAllah kitab tersebut akan dipelajari sehingga khatam.
Masa: Bermula jam 9.30 malam.
Kitab [terjemahan] boleh dibeli di tempat pengajian. InsyaAllah.
Sayyid 'Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan al-Jilani adalah seorang ulama besar yang dilahirkan pada tahun 1290/1291H (1874/1875M) di Kota Makkah al-Mukarramah. Beliau lahir dalam keluarga ulama yang sholeh. Ayahanda beliau adalah saudara kandung Syaikhul Islam Mufti Haramain Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan, ulama dan mufti Hejaz yang masyhur, manakala bonda beliau adalah saudara perempuan Sidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi. Nasab penuh beliau adalah Sayyid 'Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin 'Utsman Dahlan bin Ni'matUllah bin 'Abdur Rahman bin Muhammad bin 'Abdullah bin 'Utsman bin 'Athoya bin Faaris bin Musthofa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qaadir bin 'Abdul Wahhaab bin Muhammad bin 'Abdur Razzaaq bin 'Ali bin Ahmad bin Ahmad (Mutsanna) bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya bin Muhammad bin Abi 'Abdillah bin al-Hasan bin Sayyidina 'Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya` bin Abi Sholeh Musa bin Janki Dausat Haq bin Yahya az-Zaahid bin Muhammad bin Daud bin Muusa al-Juun bin 'Abdullah al-Mahd bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sibth bin Sayyidinal-Imam 'Ali & Sayyidatina Fathimah al-BatuulradhiyaAllahu`anhum ajma`in.
Tatkala beliau berusia 6 tahun, ayahandanya wafat, Sidi Ahmad Zaini Dahlan telah mengambil tugas ayahandanya untuk menjaga dan memberi pendidikan yang sempurna kepadanya. Pamannya ini turut mengasihi dirinya serta memberikan perhatian besar terhadapnya. Beliau berada di bawah asuhan pamannya ini sehinggalah ulama besar Hejaz ini wafat di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1304H (1887M).
Setelah pemergian pamannya yang mulia, Sayyid 'Abdullah kembali ke Kota Makkah dan menyambung pengajiannya dengan para ulama di sana, antaranya dengan pamannya Sidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi, Syaikh Muhammad Husain al-Khayyath, Habib Husain bin Muhammad al-Habsyi dan lain-lain ulama terkemuka. Kedalaman ilmunya diakui para ulama sehingga beliau diberi kepercayaan untuk menjadi Imam dalam Masjidil Haram di Maqam Ibrahim (tempat bagi Imam mazhab Syafi'i) serta menjadi tenaga pengajar di Masjidil Haram yang mengendali halaqah ilmu di Babus Salam.
Sayyid 'Abdullah terkenal sebagai ulama yang suka mengembara dari satu tempat ke satu tempat demi menyebarkan risalah dakwah dan ilmu. Beliau telah merantau ke banyak tempat seperti Zanzibar, Yaman, India, Mesir, Bahrain, Iraq, Syam, India, Sri Lanka, Tanah Melayu, Singapura, Jawa dan Sulawesi. Beliau juga telah mendirikan berbagai madrasah di tempat-tempat tersebut. Apa yang menarik ialah sewaktu di Tanah Melayu beliau telah dilantik menjadi Syaikhul Islam (Mufti) Kedah kedua. Namun jawatan tersebut hanya disandangnya kira-kira setahun iaitu dari 1904 sehingga 1905 dan dilepaskannya kerana beliau berhasrat untuk kembali ke Makkah.
Setelah lama berkelana, akhirnya Sayyid 'Abdullah telah memilih untuk menetap di Desa Ciparay Girang, Karang Pawitan dalam daerah Garut, Jawa Barat. Di situlah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 1943, setelah menjalani hidup yang penuh ketaatan dan keberkatan. Beliau meninggalkan beberapa karangan, antaranya:-
Irsyad Dzil Ahkam;
Zubdatus Sirah an-Nabawiyyah;
Tuhfatuth Thullab fi qawa'idil i'raab;
Khulaashah at-Tiryaaq min samuum asy-Syiqaaq;
Irsyadul Ghaafil ila maafiith thoriiqatit Tijaaniyyati minal baathil;
Fatwa fi ibthal thoriqah wahdatil wujud.
Mudah-mudahan Allah sentiasa mencucuri rahmat ke atas Sayyidi 'Abdullah Shadaqah Dahlan al-Jilani al-Hasani. ...... al-Fatihah.
Hadits Jabir berhubung Nur Muhammad s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam 'Abdur Razzaq terus menjadi pertikaian. Sebahagian mentsabitkannya, manakala sebahagian lagi menolaknya dengan alasan ianya tidak dijumpai termaktub dalam Musannaf beliau. Sebahagian menjadikan ketakwujudan atau mungkin ketakjumpaan hadits tersebut dalam Musannaf sebagai alasan untuk menolak dan membid'ahsesatkan konsep Nur Muhammad. Manakala sebahagian lagi yang menolak tsabitnya hadits Jabir tersebut, tidak pula menolak konsep Nur Muhammad, cuma menolak pentsabitan hadits tersebut. Walau apa pun, wujudnya perbezaan pendapat ini jelas menunjukkan bahawa perkara ini termasuk dalam perkara khilafiyyah yang berlaku di kalangan ulama. Maka sewajarnya kita menjaga adab dalam perkara ini demi keutuhan ukhuwwah dan perpaduan umat sejagat.
Majalah Dakwah Bulanan yang dibawah penyeliaan dan pimpinan Habib Taufiq as-Segaf, "Cahaya Nabawiy" edisi No. 63 Tahun VI Rajab 1429, turut memuatkan jawapan pengasuh ruangan Istifta'nya, Ustaz Muhibbul Aman Aly, berhubung hadits Nur Muhammad ini.
Hadits tentang Nur Nabi Muhammad SAW ini diriwayatkan oleh Imam Abdur Rozaq. Hadits ini disebutkan oleh beberapa ulama dengan riwayat dari Abdur Rozaq, diantaranya disebutkan oleh Syekh Sa'dud Din at-Taftazani dalam kitab "Syarh Burdatul Madikh", Syekh Sulayman al-Jamal dalam kitab "Syarh al-Syamail", Syaikh Ibnu Hajar al-Haytami dalam kumpulan fatwa haditsnya, Syekh Ahmad al-Showi al-Maliki dalam kitab "Bulghotus Salik", Syekh Abdulloh al-Khifaji dalam kitab "al-Siroh al-Halabi" dan ulama-ulama lainnya. Ada sebahagian orang yang meragukan keberadaan hadits ini, karena redaksi hadits ini tidak ditemukan dalam kitab Musnad (kumpulan hadits) Abdur Rozaq yang beredar saat ini, tetapi alasan ini tidak kuat, karena terbukti para ulama dahulu banyak mengutip hadits ini dari riwayat Abdur Rozaq. Ini bererti redaksi hadits ini termuat dalam manuskrip kitab Musnad Abdur Rozaq yang beredar pada zaman dahulu, dan yang beredar saat ini bukan manuskrip yang lengkap sebagaimana yang diterima oleh para ulama pada masa dahulu.
Pada tahun 1428H / 2007M, Syekh 'Isa bin Abdulloh al-Khimyari, seorang ulama ahli hadits, mengaku telah menemukan manuskrip kuno kitab Musnad Abdur Rozaq yang didalamnya tertulis beberapa hadits yang tidak ditemukan dalam cetakan yang beredar saat ini. Termasuk di dalamnya hadits tentang Nur Muhammad SAW ini. Meskipun penemuan ini masih diragukan oleh sebahagian kalangan, yang jelas hadits ini telah banyak dinukil oleh para ulama terdahulu. Ini sudah cukup membuktikan keberadaannya. Terlepas dari perbedaan pendapat para ahli hadits tentang kesahihannya.
Beginilah kedudukan hadits Nur Muhammad yang diriwayatkan oleh Sayyidina Jabir r.a. Dalam penolakan sebahagian, sebahagian pula menerima dan mentsabitkannya. Apa yang jelas, para ulama daripada kalangan habaib Bani 'Alawi pada umumnya menerima dan berpegang dengan hadits tersebut sebagaimana termaktub dalam karya Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi yang termasyhur "Simthud Durar" yang menyatakan sebagai berikut:-
1. 10 Julai 2008 / 7 Rajab 1429 (Khamis): Ceramah Umum oleh al-Muhaddits Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Baa’its al-Husaini al-Kattani (Mesir) dan Dr. Usamah el-Said (Universiti Al-Azhar, Mesir) di Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam. Majlis bermula jam 8 malam.
2. 11 Julai 2008 / 8 Rajab 1429 (Jum'at): Ceramah Isra Mi'raj dan Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah oleh Syaikh Dr. Ahmad Ajur (pensyarah di Universiti Beirut) di Masjid al-Falah, USJ 9, Subang Jaya. Majlis bermula selepas sholat maghrib.
Sukacita di maklumkan, ITMAM menganjurkan Majlis Silaturrahim Pondok Se Malaysia pada masa dan tarikh seperti berikut :
Tarikh: 9 - 10 Rajab 1429H / 12 - 13 Julai 2008 Tempat : Madrasah Darul Muhajirin Bukit Jong, Kuala Terengganu, Terengganu Darul Iman Anjuran : ITTIHAD AL-MADARIS ISLAMIYAH (ITMAM) dan Madrasah Darul Muhajirin
Tema: Memahami Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah Berdasarkan Pengajian Sifat 20
Tetamu Khas
Al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad Ibrahim Abdul Baa’its al-Kattani
Asy-Syaikh Dr. Usamah el-Said (Pensyarah Universiti al-Azhar)
Atucara (tentatif):
Sabtu (9 Rajab 1429H/12hb Julai 2008)
8.50 pagi : Ketibaan Para Jemputan 9.00 pagi : Ucapan Pengerusi Majlis 9.05 pagi : Bacaan al-Quran 9.10 pagi : Bacaan Sholawat ad-Daiba’ie oleh pelajar Madrasah Darul Muhajirin. 9.30 pagi : Ucapan Aluan Wakil ITMAM- Tuan Guru Hj Wan Zukir b. Hj Wan Ismail 9.40 pagi : Ucapan Aluan Wakil Madrasah Darul Muhajirin –Tuan Guru Mohd. Suplar b.Yahya 9.50 pagi : Ucapan Perasmian
10.00 pagi: PENGAJIAN 1 Oleh: Dr. Abdul Rahman bin Mahmud Tajuk: “Menolak Tanggapan Sifat 20 dari Falsafah Greek dan Yunani - Suatu Kajian dan Analisa”.
12.30 tengahari: Makan tengahari dan sholat Zohor
2.30 ptg : PENGAJIAN 2 Oleh: Ustaz Hj Abdullah Zaidi b Hassan (Pencakna Budaya Kelantan) Tajuk: Sifat 20 Memberi Jawaban Kepada Sains Moden
4.30 ptg : Khidmat diri dan sholat ‘Ashar
5.00 -7.00 ptg : PENGAJIAN 3 Oleh Syaikh Dr Usamah el-Said Tajuk:Asy’ariyyah dan Maturidiyyah Adalah Manhaj Salaf
6.30 ptg : Makan malam & Aktiviti bebas
7.30 mlm : Sholat Maghrib
8.30 mlm : Sholat Isyak 9.00 – 11.00 mlm: PENGAJIAN 4 Oleh: al-Muhaddits Syaikh Muhammad Ibrahim al-Kattani Tajuk: Beberapa Penyelewengan Takrifan Hadits Mengikut Ahl al-Sunnah
AHAD (10 Rejab 1429H /13 Julai 2008)
6.45 pagi : Kuliah Shubuh oleh Ustaz Hj Sahul Hamid b Seeni Mohd. (Mudir Madrasah Darul Tahzib,Teluk Kumbar, Pulau Pinang).Tajuk: Tauhid Tasawuf
7.30 pagi : Sarapan pagi dan aktiviti bebas
9.00 pagi : PENGAJIAN 5 Oleh Ustaz Muhammad Aleh Sholihin (YDP Pertubuhan Sinar Damsyik Malaysia merangkap Mudir Madrasah Tahzib wa Ta’lim) Ulasan Akidah Ibnu Taimiyyah berdasarkan Kitab Daf’u Syubahi man Syabbaha wa Tamarrada wa Nasaba zalika ila al-Sayyid al-Jalili Ahmad - Karangan Syeikh Taqiyuddin al-Hifni (Pengarang kitab Kifayatul Akhyar).
10.45 pagi : Rehat
11.00 pagi : Sambungan Pengajian 5
12.40 tengahari: Makan tengahari dan sholat Zohor
2.30 ptg : Bengkel
4.30 ptg : Khidmat diri & sholat ‘Asar
6.30 ptg : Makan malam & aktivit bebas
7:30 mlm : Sholat Maghrib
8:30 mlm : Sholat ‘Isya’
9.00 mlm : Majlis Penutup. Tuan Guru Hj Abdul ‘Aziz Haji Shafie (Ulama Fathoni) Tajuk: Kepentingan Sanad Ilmu, Amalan Sufiyah dan Dakwah di dalam Pendidikan Pengkaderan Ulama’.
Kehadiran Tuan/Puan sangat dialu-alukan. Kerjasama Tuan/Puan menghebahkan makluman ini sangatlah kami hargai dan kami dahului dengan ucapan setinggi terima kasih. Bersama untuk mempertahankan dan memartabatkan aliran Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah
Keterangan lanjut, sila hubungi : Badrul: 019 991 7771 Mohd Razlan: 016 921 1682 En Rashid: 019 915 1568